An Act of Self-Love: I Sever My Ties

Suatu malam, kami membicarakan masa-masa terkelam kami. Ternyata, kami sudah mampu tertawa pada komedi hitam yang adalah hidup kami sendiri beberapa tahun yang lalu.

‘Kami’ di sini adalah saya dan adik saya.

Ketika saya SMP, dan adik-adik saya masih SD papa saya menikah lagi, dan dari situlah tabungan beban emosi saya dimulai. Saya di sini bukan mau ngomongin orangnya, bukan juga mau ngomongin pilihan papa saya yang sudah dibuat dan tidak bisa di-cancel bagai order ojek online. Saya cuma mau ngomongin kenapa saya memutuskan hubungan dengan istri baru papa saya, yang saya anggap sebagai abuser langganan saya sejak saya SMP kelas 2 (2005) sampai saya menikah tahun (2013) dengan intensitas yang berbeda dan seringkali secara tidak langsung.

Untuk sebagian orang yang tidak pernah mendengar cerita, mungkin akan merasa aneh kalau melihat betapa bencinya saya dan adik-adik saat itu sama pihak abuser. Saya pribadi pernah merasa sangat emosional, sampai ke titik di mana saya cuma ingin dia lenyap dari muka bumi ini. Untuk menggambarkan seberapa bencinya saya kala itu, kalimat ini mungkin membantu: untung saja, membunuh itu haram.

Untuk sebagian lain yang pernah mendengar cerita saya tentang abuser satu ini, mungkin bisa lebih mengerti walaupun tidak sepenuhnya tahu cerita detil yang terjadi saat itu. Kalau kalian baca ini, dan kalian pernah saya curhatin soal ini, terimakasih banyak sudah sabar mendengarkan. Maaf, kalau  yang saya omongin setiap hari kala itu adalah betapa menderitanya saya di rumah. Maaf juga kalau mungkin curhatan saya bikin hari kalian jadi ikutan suram. Sesungguhnya kalian adalah kontributor kewarasan saya saat itu. Kalau bukan karena kalian, teman-teman tersayang, saya tidak akan bisa melewati masa-masa sekolah yang kali itu jadi pelarian saya dari rumah.

Saya baru berusia 14 tahun (adik saya 12 tahun dan 8 tahun) ketika segalanya dimulai, sedangkan dia 34 tahun. Usia kami terpaut jauh, dan mungkin ini pula lah yang membuat dia merasa superior.

Kala itu  kapasitas mental saya sudah berat dibebani aftermath perceraian orang tua saya di tahun 2002. Beban emosi saat itu tidak membaik karena kami masih usia sekolah dan kami tidak menjalani terapi atau konseling dalam bentuk apapun untuk membantu kami sembuh dari luka batin. Akibatnya beban emosi yang seharusnya dikeluarkan akhirnya terpaksa kami tekan balik ke dalam.

Saya tidak berharap banyak. Hanya setidaknya bantulah kami mengatur dan memenuhi kebutuhan lain. Tapi yang kami dapat kurang lebih adalah bullying.

Sekolah dan les seharian penuh? Uang jajan 5000 sehari aja. Tanpa bekal makanan dari rumah, tanpa apapun.
Istirahat dua kali di sekolah? Puasa aja ya.
Mau setel TV? Volumenya harus bisik-bisik ya biar gak ganggu tidur siang.
Baca novel? Aduh jangan, nanti kelakuannya aneh-aneh kayak tokoh di bukunya.
Sakit? Makan saja obat generik selama tiga bulan lamanya, nanti pasti sembuh sendiri.
Masih sakit? Ke dokternya sama tukang ojek aja, ya, gak usah diantar.
Demam tinggi? Gak usah dijemput lah dari sekolah. Ada prioritas lain.
Enakan dikit? Ya udah, masuk ajalah gak usah dengerin dokter. Jangan-jangan bohong pula ya, sakitnya?
Kristal pajangan (tak sengaja) dipecahkan? ONAR! NISTA! GAK TAHU DIRI! (Lalu dibentak-bentak)
Baju udah jelek? Gak usah beli, kan masih ada yang lama.
Baju dalam udah belel? Belum bolong kan? Mending duitnya buat krim muka (dia) aja.
Belanja makan di rumah? Biar gampang fast food aja lah ya. Sosis, nugget, mie instan.

Cerita tentang bagaimana saya dan adik-adik mampu bertahan dari itu semua adalah cerita yang lain.

Setelah perang yang cukup sengit, akhirnya diputuskanlah untuk berpisah rumah. Namun tentu saja bullying tidak berhenti sampai di sana. Kami tetap dipaksa datang pada waktu-waktu tertentu seperti waktu hari raya tiba, walaupun perlakuan tidak menyenangkan tetap terjadi. Ketika seseorang bertanya kenapa kami tidak tinggal serumah, tiba-tiba suatu alibi karangan bebas mendadak muncul di mana kami adalah anak sholeh dan sholeha yang tinggal di pesantren karena rumah kami tak cukup menampung anak yang banyak. Saya kira dia tak punya sesuatupun yang ia pedulikan di dunia ini, namun si tukang bully ternyata punya sesuatu yang ia pedulikan: reputasinya.

Kala itu, saya tidak punya ruangan lain untuk melampiaskan kekesalan. Karena kata mereka, kami harus tetap menghormatinya karena dia lebih tua. Dan apapun yang ia lakukan pada kami, kami tidak boleh melawan. Sungguh logika bodoh.

Fokuslah belajar, kata mereka. Sudah tidak usah dipikirkan, fokuslah belajar.

Segala perlakuannya pada kami adalah bukti bahwa dia tidak peduli sehelai rambutpun pada kami. Secara teknis dia adalah keluarga baru kami, namun dia tak pernah menganggap kami keluarganya. Kedudukan kami di matanya lebih rendah dari yang kami pernah bayangkan.

Tapi tentu saja, saat wisuda sarjana akhirnya tiba, dia harus ikut hadir. Demi foto yang instagrammable. Demi gengsi yang tinggi. Sampai saya merasa, kalau boleh memilih, tak usah ikut acaranya pun saya tidak apa-apa.

Saat acara pernikahan saya tiba, hal yang sama terjadi. Sampai akhirnya saya bersumpah pada diri sendiri. Ini adalah yang terakhir. Setelah ini, saya tak akan lagi menerima sampah yang tidak seharusnya. Saya sudah cukup (hampir) gila.

Saya pribadi, tak menemukan alasan kenapa saya harus berhubungan dengan orang yang telah melakukan ini semua lalu kini berpura-pura seperti tak ada apa-apa.

Berkat self-healing, saya bisa menulis ini dengan lancar tanpa gejolak emosi yang biasanya hadir, mengambil alih kesadaran saya sepersekian detik. Menyuntik bara emosi, yang membuat saya kembali ke kalimat: “untunglah, membunuh itu haram”. Saya juga menyadari bahwa tindakan ini merupakan bentuk self-love untuk saya pribadi, karena saya menghindari sumber penyakit (jiwa) yang selama ini telah membuat saya sakit.

Mungkin langkah setiap orang berbeda. Mungkin juga langkah yang saya ambil tak sepenuhnya benar. Namun saya sudah mantap memilih untuk memutus hubungan sepenuhnya, secara sadar, dengan abuser saya.

Akhir kata, saya persembahkan sebuah kutipan yang mendorong saya menulis segalanya dengan sejujurnya, sepenuhnya dalam sudut pandang saya.

You own everything that happened to you. Tell your stories. If people wanted you to write warmly about them, they should have behaved better (Anne Lammott)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s