Stomach Heartbreak

Nabi Muhammad SAW bersabda “Sumber dari segala penyakit adalah perut, perut adalah gudang penyakit dan berpuasa itu obat” (H.R. Muslim)

Kurang dari sebulan yang lalu saya baru saja menjalani operasi pengangkatan kista ovarium (yang ternyata adalah tumor jinak menurut hasil histopatologi!). Sampai hari ini saya masih dalam masa pemulihan, dan belum bisa beraktivitas normal (baca: brutal). Brutal karena saya punya anak dua tahun yang gak bisa diem. :D. Saya ingat sebelum operasi, saya merasa sangat tidak nyaman dengan kista tersebut dan berjanji sama diri sendiri bahwa saya ingin hidup sehat setelah selesai operasi.

Udah dioperasi aja, lu baru kapok.

Emang gitu kan ya, manusia. Kapok kalau udah kena batunya!

Dokter yang mengoperasi saya bilang, kalau kista tersebut muncul karena faktor genetik. That’s easy to say right? Genetics. Let’s blame the genes. But you know what? Masalah genetik ini sebenarnya gak akan “terekspresikan” alias muncul kalau tidak ada penyebabnya. Kalau saya, selain ada faktor genetik di mana saya lebih mudah punya kista/tumor/sejenisnya, kesalahan saya adalah makan serampangan. Jaman saya sekolah dulu, selain jajan sembarangan, makanan di rumah saya juga kurang sehat.

Saya tambah yakin kalau makan serampangan ini adalah faktor terbesar penyebab kista ini setelah saya belajar sedikit tentang ayurveda dari Zia dan Kimmana. You are what you eat, but on the deeper level, if you think about it, you are what you digest. Karena percuma kalau kalian makan, taunya badannya gak bisa mencerna makanan itu dengan baik, kan? Makanan serampangan yang masuk sejak dulu itu, isinya mungkin bukan hal-hal yang tubuh saya butuhkan. Selain tidak dibutuhkan, makanan yang enak tapi gak sehat ini juga sulit dicerna karena banyak pengawetnya.

Anyway, berawal dari niat ingin hidup lebih sehat itulah yang akhirnya membawa saya ke dokter gizi untuk tes alergi.

Kenapa tes alergi?

Sejak pertengahan masa kuliah (kira-kira tahun 2010) saya sudah merasa ‘aneh’ kalau makan nasi putih! Saya kalau makan nasi putih (yang tentunya saat itu saya rutin makan tiga kali sehari, setiap hari, seperti orang Indonesia pada umumnya) langsung begah. Setelah makan, bukannya jadi segar dan bertenaga seperti yang seharusnya, saya malah jadi ngantuk dan lemas. Makin ke sini, gejalanya makin aneh lagi. Saya perhatikan, saya suka jerawatan di daerah dagu setelah makan nasi putih. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk tidak makan nasi putih. Tidak stop sama sekali, sih. Tapi jadi sangat jarang. Karena ini, saya jadi curiga saya punya alergi/sensitif/intoleransi makanan.

Beberapa hari yang lalu, akhirnya saya ke dokter gizi untuk konsultasi dan tes alergi. Lalu terbukti lah kecurigaan saya. Saya ternyata harus menghindari makanan yang mengandung:

  1. Gandum. Which means I have to say goodbye (for a while, hopefully. But now’s not looking good) to all food made from wheat. Itu termasuk tepung putih, roti, mie, pizza, donat, gorengan, sosis, nugget, sereal, semuanya yang digoreng tepung, bahkan biskuit. Intinya, makanan yang saya suka jadiin cemilan.
  2. Susu dan olahannya. Ternyata saya tidak bisa mencerna susu dengan baik. Juga termasuk keju, yoghurt, butter.
  3. Kacang-kacangan (beans and nuts). Dadah bubur kacang ijo, dadah almond milk, dadah kacang mete. Soya milk, bye. I mean…. 😦

…dan saya sesungguhnya cuma bisa melongo pas dokternya bikin daftar. Lalu melayanglah pikiran saya ke kuliner lebaran. Saya gak bisa makan enak pas kuliner lebaran di Cirebon. TOLONG!!

Setelah saya pikir ulang, ya sudahlah. Ini adalah “saran” dari dokter yang bisa saya kerjakan, dilanggar pun dokternya gak akan marah. Tapi suka tidak suka, inilah langkah pertama saya mewujudkan niat untuk hidup lebih sehat! Kalau berpikir panjang, tentu saja inti dari lebaran adalah kumpul keluarga, bukan makan.

Akhirnya saya sadar dan harus puas bahwa craving itu ada yang sehat ada yang tidak. Kadang kita craving makanan tidak sehat karena badannya sudah out of balance. Kita craving sesuatu yang tidak kita butuhkan. Badan butuhnya yang penting, tapi lidah kita craving hal2 gak penting. Seperti misalnya micin 😌. Tapi saya masih mengakui bahwa Indomie cengek saat hujan itu, nikmat. Titik.

Balik lagi ke bahasan alergi/sensitivitas/intoleransi makanan. Sebenarnya alergi, intoleransi, dan sensitivitas itu menggambarkan seberapa ekstrim tubuhmu tidak cocok dengan makanan tertentu. Ada yang reaksinya cuma gatal-gatal, ada juga yang sakit perut, ada juga yang ekstrim seperti reaksi anaphylaxis. Tapi, sebenarnya tidak perlu sampai gatal-gatal, ada tanda lain yang bisa menunjukkan apakah kamu juga punya sensitivitas makanan. Misalnya kalau saya, lemas setelah makan itu berarti tubuh saya tidak bisa mencerna makanan yang saya makan dengan baik. Atau ada masalah lain seperti jerawat, perut terasa kembung/begah, dan konstipasi! Kalau ada gejala-gejala seperti ini yang sering terasa, mungkin ada baiknya kamu cek.

Dokter gizi saya juga menyarankan untuk olahraga empat kali seminggu. Durasinya tergantung orangnya. Kalau kayak saya yang tekanan darahnya rendah, 30 menit satu sesi olahraga sudah cukup.

Akhir kata, saya berharap saya bisa istiqamah dalam menolak makanan yang tidak baik untuk saya makan. Doain ya. Huhu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s